Trump Umumkan Penghentian Serangan ke Teheran, Tanda Perang AS-Iran Berakhir?
- account_circle Tedy Indrajaya
- calendar_month Kamis, 26 Mar 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Spotlight News Indonesia – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan penundaan serangan militer terhadap Iran selama lima hari, menyusul klaim adanya pembicaraan “sangat baik” antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tiga minggu di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut kedua negara telah melakukan “percakapan produktif” selama dua hari terakhir yang mengarah pada “resolusi lengkap dan total” atas permusuhan yang terjadi. Ia juga menegaskan telah menginstruksikan Pentagon untuk menunda serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran, dengan syarat proses negosiasi berjalan sukses.
“Pihak AS dan Iran akan terus berbicara sepanjang minggu,” tulis Trump, dikutip AFP, Selasa (24/3/2026).
Langkah ini mengejutkan banyak pihak. Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran jika Teheran tidak membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun kini, pendekatan diplomasi tampak mulai dikedepankan.
Meski demikian, klaim tersebut langsung dibantah oleh pihak Iran. Media setempat mengutip pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran yang menyatakan tidak ada pembicaraan seperti yang diklaim Washington. Teheran justru menilai pernyataan Trump sebagai upaya untuk meredam lonjakan harga energi global akibat konflik.
Di lapangan, ketegangan masih berlangsung. Iran dilaporkan tetap membatasi lalu lintas di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia—serta melancarkan serangan terhadap target energi, kedutaan besar AS di kawasan Teluk, dan sasaran di Israel. Serangan balasan dari pihak AS dan sekutunya juga masih terjadi.
Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa jika konflik berlanjut, gangguan pasokan minyak global dapat memicu krisis energi yang lebih parah dibandingkan gabungan krisis minyak 1970-an dan dampak invasi Rusia ke Ukraina.
Penulis Tedy Indrajaya
Tedy Indrajaya adalah jurnalis senior dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam meliput isu pemerintahan dan sosial. Ia dikenal dengan gaya penulisan yang tajam, akurat, dan berimbang, serta aktif mendorong praktik jurnalisme yang profesional dan terpercaya.

Saat ini belum ada komentar