Salut! Kiprah Hoho Alkaf Bangun Desa Hingga Dipuji Kang Dedi Mulyadi
- account_circle Arka Pradipta
- calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
- visibility 60
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Spotlight News Indonesia – Sosok Kepala Desa Purwasaba, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara, Yuni Nugroho atau yang akrab disapa Hoho Alkaf, tengah menjadi sorotan publik. Di balik penampilannya yang nyentrik dengan tato di tubuhnya, Hoho justru menunjukkan kepemimpinan yang visioner dan berdampak nyata bagi pembangunan desa.
Keberhasilannya dalam mengelola potensi desa melalui pemanfaatan dana desa secara produktif bahkan mendapat apresiasi dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dalam kunjungannya ke Desa Purwasaba, Dedi Mulyadi mengaku terkesan dengan capaian yang diraih Hoho. Ia menilai kepemimpinan Hoho tidak hanya berbeda secara tampilan, tetapi juga kuat dalam implementasi kebijakan.
“Kepala desanya bukan hanya tampilannya yang nyentrik, tetapi kepemimpinannya juga sangat baik dan terukur,” ujar Dedi dalam sebuah unggahan yang beredar di media sosial.
Dedi bahkan menilai desa dengan pengelolaan yang optimal seperti Purwasaba layak mendapatkan dukungan anggaran yang lebih besar, mengingat dampak positif yang dihasilkan bagi masyarakat.
Pengelolaan Dana Desa Berbasis Produktivitas
Di bawah kepemimpinan Hoho, dana desa tidak hanya digunakan untuk pembangunan fisik, tetapi diarahkan menjadi sumber penggerak ekonomi melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Sejumlah unit usaha yang dikembangkan antara lain:
- Pertanian sawah produktif
- Budidaya perikanan
- Peternakan ayam petelur dengan populasi sekitar 7.000 ekor
Dari sektor peternakan saja, produksi telur mencapai sekitar 420 kilogram per hari. Aktivitas ekonomi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan desa, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga setempat.
Manajemen Modern Jadi Kunci Keberhasilan
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari latar belakang Hoho sebagai pengusaha. Ia menerapkan sistem manajemen modern dalam pengelolaan BUMDes, mulai dari perencanaan, pengembangan sumber daya manusia lokal, hingga strategi pemasaran.
“Kami kelola secara serius, dengan perencanaan yang jelas, SDM yang dilatih, serta penguatan pasar,” ujar Hoho.
Dengan pendekatan tersebut, Desa Purwasaba menargetkan mampu mencapai omzet hingga Rp2 miliar per tahun pada akhir 2025.
Inspirasi Kepemimpinan Desa
Kisah Hoho Alkaf menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh penampilan, melainkan oleh visi, komitmen, dan kemampuan dalam mengelola potensi yang ada.
Desa Purwasaba kini menjadi salah satu contoh praktik baik dalam pembangunan ekonomi desa berbasis kemandirian, sekaligus inspirasi bagi para kepala desa di berbagai daerah di Indonesia.
- Penulis: Arka Pradipta

Saat ini belum ada komentar